IAIN STS dan Krisis Keteladanan
Oleh: Hermanto Harun*
Juga, sumber berita yang disuguhkan media, tidak selamanya menyajikan kebenaran fakta. Karena, kebenaran fatamorgana atau “fakta semu” media, menjadi sisi lain yang juga sulit dinafikan. Namun disitu pulalah unsur subyektifitas media dalam menghidangkan sebuah berita. Tapi, berita media juga boleh dijadikan sumber informasi, karena berita tiada lain sebagai pantulan objek kejadian.
Paling tidak, dalam konteks demo anarkis IAIN STS Jambi tersebut (JE, 28/04/2010), bisa merujuk kepada seloko adat “tak ada asap, kalau tidak ada apinya”.
Jika disimak sekilas, sikap anarkis demo mahasiwa tersebut hanya pantulan keresahan dari dinamika kebijakan pendidikan di kampus biru itu. Keresahan bisa aja maklum, karena dalam sebuah kebijakan, tidak akan pernah merangkumi semua keinginan dan kepentingan. Namun, untuk lebih mendalam, kejadian anarkis itu tidak boleh dilihat dalam perspektif persoalan “tuntut-mennuntut” semata, akan tetapi dapat dipandang sebagai kepingan dari retaknya cermin moralitas yang lumayan sembrawut di kampus Islam tersebut.
Mengapa demikian? Karena sikap anarkis tersebut tidak sebatas penilaian kerugian materi sebagai kaibat perbuatan bejad itu, akan tetapi sebuah perilaku yang sangat kontras dengan tujuan silabis IAIN STS yang bertujuan melahirkan generasi bangsa yang intelektual dan islami. Tujuan silabus tersebut diterjemahkan dengan materi kuliah di kampus biru itu yang tidak terlepas dari label Islam, baik yang berkaitan dengan subjek pendidikan, pemikiran, apatah lagi hukum. Semuanya berhulu dari identitas lembaga pendidikan tinggi yang “cetak biru”nya Islam. Artinya, segala hal yang diajarkan di kampus, tidak terlepas daripada nilai-nilai yang intipatinya kitab suci al-Qur’an dan sunnah nabi.
Maka, sesuai dengan identitasnya, perguruan tinggi Islam ini melahirkan label keserjanaan yang tidak dapat pupus dari labelitas Islam. Sehingga huruf I (Islam) yang mengekor buntut gelar keserjanaan alumninya, seolah menjadi identitas istimewa. Belum lagi, ketika membincangkan guru besar yang bernaung di bawah institusi ini, semuanya para ilmuan, fakar, dan ahli dalam bidang-bidang ilmu keagamaan Islam. ada professor hukum Islam, professor pendidikan Islam dan sederet keahlian lain yang bertolak dari sumber wahyu yang integral.
Dari sini tidak lah salah, jika ada penilaian bahwa IAIN sebagai gerbang keilmuan Islam nusantara, sekaligus garda pertahanan keilmuan yang menentukan nasib agama yang dibawa baginda Rasul saw di negeri mayoritas muslim ini. Juga demikian dengan IAIN STS Jambi secara khusus, akan menjadi cermin masyarakat Islam Jambi. Sejauh manakah kualitas keislaman insan akademis IAIN STS, maka sejauh itu pula ukuran keislaman masyarakatnya.
Namun, ditengah sesaknya professor dan ilmuan Islam di kampus muslim itu, seolah tidak segaris lurus dengan dinamika keislaman di dalamnya. Seolah terjadi dualitas yang menganga, antara teori keislaman dengan perilaku ilmuan. Seakan terperangkap dalam gap yang saling berhadapan, antara idealitas produk kesarjanaan dengan kenyataan perilaku mahasiswa yang dididik. Adakah ini potret dari kegagalan teori pendidikan Islam yang selama ini menjadi garapan “monopoli” IAIN, atau boleh dikatakan sebagai “kecelakaan” intelektual dalam menerjemahkan ajaran luhur Islam itu sendiri.
Realitas demo anarkis mahasiswa IAIN STS tersebut seolah menjadi hipotesa kesealuran teori dan praktik keilmuan Islam, sekaligus sentilan ‘kepongahan’ untuk para akademisi, khususnya penggawa IAIN STS Jambi. Adakah “tragedi” ini dapat membuka mata, telinga dan pemikiran civitas akademika perguruan tinggi Islam itu, atau justru selalu mencari pembenaran politik terhadap segala perilaku kenaifan yang masih terselubung.
Secara analogis, ibarat jalan arus air, gelombang yang beriak di atas permukaan tidak lain sebagai akibat dari pungguh batu yang di dasarnya. Juga, mata air di hulu sungai yang tidak jernih, sangat mungkin mengalirkan arus sungai yang keruh ke muaranya. Qiyas ini barangkali tidak tepat seutuhnya, namun, pepatah adat lebih lama mengakui bahwa, “kalau guru kencing berdiri maka murid akan kencing berlari”. Di dalam sebuah kredo arab sudah sangat tegas, bahwa “kaifa tastaqim al-zillu wa ‘audh a’waj” sebuah bayangan tidak akan mungkin lurus, jika tongkat kayunya sudah bengkok.
Petitih dan seloka di atas, acapkali menjadi bahan ajar moral bagi seorang pendidik. Karena tugas pengajar, apatah lagi di perguruan tinggi Islam, amanah tersebut tidak boleh terserabut dari nilai-nilai wahyu, dalam pendidikan dan pengajaran sekaligus. Tugas berat tersebut semestinya bukan hanya terjebak dalam ruang “kewajiban” mengajar yang kadang sangat teoritik, akan tetapi lebih diupayakan dalam arena “mendidik’ di medan kehidupan yang nyata. Dari terma inilah, identitas ilmuan Islam senpanjang sejarah tidak keluar dari konteks defenisinya, yaitu ilmuan yang selalu akur dan selaras antara ilmu yang dimiliki, keimanan yang diyakini dan moral yang dilakoni.
Bukankah ulama itu bahasa lain dari ilmuan yang bermakna “orang yang mengamalkan ilmu yang dimiliki”, sehingga berhak untuk mendapatkan gelar kehormatan waratsat al-anbiya, generasi penurus para nabi. Dan lebih dari itu, Tuhan memberi identitas yang lebih dalam kitab suci-Nya “jenis manusia yang paling takut kepad Allah SWT.
Impian inilah yang diharapkan IAIN STS Jambi. Sehingga, dengan persepaduan antara ilmu dan amal akan melahirkan keteladanan (uswah). Sehinnga perjalanan institut berlabel Islam ini selalu seimbang dan searah, yang akhirnya insan kampus IAIN STS dapat menjadi jawaban dari identitas perguruannya sendiri. Jika tidak, maka hanya waktu yang menghukumi, dimana akan tergelincir dan bahkan tenggelam dalam kezaliman zaman.
Tentu, sebuah kemusykilan yang sangat antagonis, ketika manusia yang selalu diajarkan kitab suci, yang penuh nilai-nilai luhur, moral dan ketuhanan, lalu menjadi manusia brutal dan amoral. Suatu fakta jawaban yang sungguh tidak rasional, tapi menjadi wujud dalam kenyataan.
Apakah kejadian perilaku anarkis mahasiswa IAIN STS itu, merupakan efek domino dari terabaikannya moralitas dalam ilmu pengetahuan, dimana kilau kekuasaan dan jabatan dalam institut ini sangat menyibukkan dan memukau? Sehingga mengakibatkan krisis keteladanan dari akademisi dan professor pemburu kekuasaan itu? rasanya terlalu prejudis jika itu yang menjadi justifikasinya. Tapi untuk menafikannya juga sangat riskan, mengingat, kejadian demo anarkis dengan masa perebutan kekuasaan- baik di tingkat fakultas dan rektorat -terjadi dalam nuansa waktu yg hampir bersamaan.
Rasanya, penulis sangat menyesalkan demo anarkis itu dan ingin sekali “merobohkan” kampus tempat mahasiswa Islam itu mendulang pengetahuan. Dus, saya terlengah, karena saya sendiri juga penghuni kampus megah tersebut. “Menepuk air di dulang, kepercik muka sendiri”. Jika di lumbung yang berisi padi itu banyak tikusnya,tentu jangan lumbungnya yang dibakar, tapi tikusnya yang dimatikan. Namun, bagaimana kalau isi lumbung itu lebih banyak tikusnya? tiga petinggi sumber masalah demo anarkis itu yang lebih faham solusinya. Wallahu’alam.(*)
Rasanya, penulis sangat menyesalkan demo anarkis itu dan ingin sekali “merobohkan” kampus tempat mahasiswa Islam itu mendulang pengetahuan. Dus, saya terlengah, karena saya sendiri juga penghuni kampus megah tersebut. “Menepuk air di dulang, kepercik muka sendiri”. Jika di lumbung yang berisi padi itu banyak tikusnya,tentu jangan lumbungnya yang dibakar, tapi tikusnya yang dimatikan. Namun, bagaimana kalau isi lumbung itu lebih banyak tikusnya? tiga petinggi sumber masalah demo anarkis itu yang lebih faham solusinya. Wallahu’alam.(*)
*Direktur Forum for Studies of Islamic Thouth and Civilization (FISTaC), Mahasiswa S3 Univesitas Kebangsaan Malaysia
Sumber: http://www.jambiekspres.co.id/index.php/opini/12189-iain-sts-dan-krisis-keteladanan.html