Pilgub Jambi dan Impian KMJ Mesir
Oleh: Hermanto Harun*
KETIKA acara jalan santai HBA-Fachrori yang dilaksanakan oleh PKS Jambi baru-baru ini, dibacakan sepucuk surat yang dikirim oleh Keluarga Mahasiswa Jambi (KMJ) Mesir untuk pasangan salah satu kandidat gubernur Jambi, HBA-Fachrori. Dalam surat tersebut, para intelektual Jambi yang sedang mendayung samudra pengetahuan di negeri Musa itu, selain memberi dukungan secara tertulis, juga menyimpan harapan besar untuk kemajuan tanah beradat ini di masa depan.
KETIKA acara jalan santai HBA-Fachrori yang dilaksanakan oleh PKS Jambi baru-baru ini, dibacakan sepucuk surat yang dikirim oleh Keluarga Mahasiswa Jambi (KMJ) Mesir untuk pasangan salah satu kandidat gubernur Jambi, HBA-Fachrori. Dalam surat tersebut, para intelektual Jambi yang sedang mendayung samudra pengetahuan di negeri Musa itu, selain memberi dukungan secara tertulis, juga menyimpan harapan besar untuk kemajuan tanah beradat ini di masa depan.
Sikap politik intelektual muda Jambi di Mesir itu, tentu sebagai pilihan politik yang bisa saja dipandang dari dua perspektif. Bagi yang menggunakan kacamata idealistik, sebagaimana yang nyaring dalam slogan kampus selama ini, boleh dipandang sebagai “penghiatan intelektual”, mengingat, idealisme KMJ Mesir seolah terperangkap dalam jeratan pragmatisme politik.
Namun bagi persepktif lain, justru sikap tersebut merupakan “ketegasan” politik dalam menentukan pilihan yang terbaik, sesuai pengamatan dan interaksi emosionalitas kejambian.
Jebakan pragmatis kepentingan dalam sikap politik, acapkali vis a vis idealisme politik. Akan tetapi, dalam perspektif lain, keputusan politik KMJ secara institusional, tentu tidak keluar dari perspektif “kepentingan” komunitas, bahkan sikap institusi itu merupakan bagian dari alur terjemahan idealisme, baik yang bersembunyi di balik tirai keilmuan, kedaerahan dan keagamaan.
Dari itu, dalam perspektif politik, apatah lagi di tengah sosialisasi cagub/cawagub sekarang, tentu sikap politik yang diterjemahkan menjadi dukungan kepada salah satu kontestan cagub, menjadi sangat biasa. Namun ketika suara dukungan itu datang dari insan cendekia yang berstatus mahasiswa di ranah rantau, tentu memiliki tendensi yang sarat makna. Karena, sikap politik insan kampus, jelas memiliki argumentasi akademis dan boleh menjadi cermin dari idealitas pemikiran intelektual yang masih terhalang oleh hipokritas kekuasaan.
Potret KMJ
Membincangkan Keluarga Mahasiswa Jambi (KMJ) Mesir, tentu tidak terlepas dari bincang soal keberadaan mahasiswa Indonesia di Universitas al-Azhar Mesir. Perkara ini juga tidak mungkin terserabut dari sejarah perkembangan Islam di bumi nusantara. Mengingat, universitas al-Azhar merupakan institusi pendidikan yang telah banyak melahirkan pembaharu-pembaharu kelas dunia, termasuk di Indonesia. Hampir semua tokoh Islam modern pernah ”nyantri” atau bersua dengan para guru yang berijazah al-Azhar. Dari sini kemudian, wujud al-Azhar sulit untuk diketepikan dalam dinamika keislaman dunia, khususnya nusantara.
Adalah Mona Abaza, seorang cendekia Mesir yang pernah menulis tentang Islam Indonesia, dalam goresan terakhirnya More on the Shifting Worlds of Islam–Middle East and Southeast Asia: A Tsroubled Relationship? Abaza berargumen bahwa, relasi akademik antara Timur Tengah dan Indonesia cenderung bersifat searah. Maksudnya, arus mahasiswa Indonesia lebih banyak yang belajar di negeri anbiya, khususnya di Universitas al-Azhar, Kairo.
Adalah Mona Abaza, seorang cendekia Mesir yang pernah menulis tentang Islam Indonesia, dalam goresan terakhirnya More on the Shifting Worlds of Islam–Middle East and Southeast Asia: A Tsroubled Relationship? Abaza berargumen bahwa, relasi akademik antara Timur Tengah dan Indonesia cenderung bersifat searah. Maksudnya, arus mahasiswa Indonesia lebih banyak yang belajar di negeri anbiya, khususnya di Universitas al-Azhar, Kairo.
Sementara di pihak lain, meskipun ini tidak dinyatakan Abaza secara jelas, hampir bisa disebutkan, tidak ada mahasiswa asal negeri gurun pasir itu yang belajar di institusi pendidikan tinggi di Indonesia . (The Muslim World, Vol 97:3, 2007).
Selain pengakuan Abaza tersebut, Azyumardi Azra juga mengisahkan hal yang sama. Menurutnya, pada tingkat universitas, mahasiswa Indonesia sejak 1920-an memang telah datang ke Kairo dan belajar di Universitas al-Azhar. Ini dimulai dengan generasi pertama, yakni Fathurrahman Kafrawi dan Mahmud Yunus, seperti dicatat William Roff dalam artikel pentingnya “Indonesian and Malay Students in Cairo in the 1920 (Indonesia, 9: 1970).
Keberadaan Mahasiswa asal Jambi di Mesir tidak lain merupakan pantulan dari kilau Universitas al-Azhar yang sampai hari ini masih menjadi kiblat pengetahuan keislaman. Tuntutan pengetahuan keislaman di tanah melayu Jambi sepertinya mengharuskan para putra Jambi untuk menimba ilmu pengalaman di kampus Al-Azhar. Maka, seiring perjalanan waktu, jumlah mahasiswa Indonesia, khususnya asal Jambi juga mengalami peningkatan, walau, sangat sedikit jika dibandingkan dengan provinsi lain di tanah air.
Sampai saat ini, mayoritas mahasiswa asal Jambi di negeri lintasan para nabi itu, “nyantri’ di kampus al-Azhar, dan sebagain kecil menimba pengetahuan di kampus Liga Arab, Institut Zamalek dan yang lainnya. Rajutan rasa kekeluargaan yang dipayungi idenitas kedaerahan, disamping menguatkan idealisme keilmuan dalam menjawab persoalan umat di ranah kelahiran.
Sampai saat ini, mayoritas mahasiswa asal Jambi di negeri lintasan para nabi itu, “nyantri’ di kampus al-Azhar, dan sebagain kecil menimba pengetahuan di kampus Liga Arab, Institut Zamalek dan yang lainnya. Rajutan rasa kekeluargaan yang dipayungi idenitas kedaerahan, disamping menguatkan idealisme keilmuan dalam menjawab persoalan umat di ranah kelahiran.
Pautan emosi itu diikat oleh sebuah organisasi Keluarga Mahasiswa Jambi (KMJ) yang berdiri pada hari Ahad tanggal 19 Muharram 1407 H, yang bertepatan dengan 23 September 1986 M di Kairo - Mesir.
Impian Kairo
Denyut suasana Pilgub di tanah Jambi sekarang ini, tidak hanya menggetarkan rakyat Jambi yang berada dalam kawasan territorial provinsi itu. Namun, fluktuasi politik pergantian nakhoda Jambi 2010 ini juga mengusik kesadaran dan sensitifitas putra daerah ini di negeri perantauan. Hingar bingar Pilgub Jambi nampaknya menyeruak melewati lintasan samudera, sehingga kegerahan terhadap konidisi “ketertinggalan” ranah kelahiran memancing keasadaran untuk bersikap dan mengambil bagian dalam dinamika politik daerah. Bahkan, lebih jauh, mereka telah mengambil suatu keputusan untuk menjadi garda “moral” bagi pasangan HBA-Fachrori.
Lantas apakah sikap politik KMJ Mesir itu memiliki makna dan memberi pengaruh signifikan terhadap pemenangan kandidat yang akan didukung? Secara kuantitas, tentu suara mereka tidak menambah hitungan angka pemenangan. Namun, dalam aspek moralitas, dukungan KMJ Mesir bisa menjadi sugesti terhadap masa mengambang (floating mass), sebagai cermin dari sebuah impian besar untuk masa negeri Jambi yang lebih bermartabat.
Lantas apakah sikap politik KMJ Mesir itu memiliki makna dan memberi pengaruh signifikan terhadap pemenangan kandidat yang akan didukung? Secara kuantitas, tentu suara mereka tidak menambah hitungan angka pemenangan. Namun, dalam aspek moralitas, dukungan KMJ Mesir bisa menjadi sugesti terhadap masa mengambang (floating mass), sebagai cermin dari sebuah impian besar untuk masa negeri Jambi yang lebih bermartabat.
Asupan sugesti moral dari Kairo untuk kandidat cagub/cawagub Jambi itu, paling tidak dapat diinterpretasikan dari beberapa aspek. Pertama, selama ini, keberadaan mahasiswa asal Jambi di negeri Musa itu kurang atau bahkan tidak mendapat perhatian semestinya dari pemerintah Jambi, sebagaimana wujud mahasiswa yang berasal dari daerah lain di Indonesia. Entitas KMJ Mesir dipandang sebelah mata, bahkan terlupakan dari gempita pembangunan Jambi. Seperti kondisi sekarang ini, hanya KMJ Mesir (satu-satunya) yang tidak memiliki sekretariat permanen bantuan daerah, sedangkan provinsi lain Indonesia telah memiliki apartemen dari bantuan kebijakan gubernurnya. Padahal, jika mau jujur, pertahanan garda depan keislaman ranah Jambi merupakan hasil dari tetesan keringat insan cendekia yang berpendidikan di kawasan Timur Tengah, dan Mesir secara khusus.
Kedua, paket kiriman imunitas moral dari negeri piramid itu merupakan bagian dari kepedulian terhadap arah pembangunan Jambi. Seperti jamak diketahui, negeri Jambi yang secara sosiologis keagamaan bercirikan melayu Islam itu seolah kehilangan kompas pembangunan. Sehingga, kebijakan yang menghapus lokalisasi prostitusi, miras, dan persoalan “pekat” hampir tak terdengar. Belum lagi, skandal minor moral penguasa Jambi dalam kasus korupsi yang sempat menghiasi berita nasional. Potret “hitam” daerah Jambi ini akhirnya memanggil suara KMJ Mesir untuk “berijtihad” politik dalam berkontribusi pada pilgub Jambi sekarang.
Akankah kiriman paket suara moral KMJ Mesir itu telah tepat alamat sesuai tujuan yang mereka impikan? atau tersesat menuju tong sampah politik, seperti dukungan kebanyakan, yang menyembunyikan kepentingan hedonis materialistik. Penulis berkeyakinan, bahwa KMJ Mesir, tentu telah mendengar, bertanya dan bahkan mengetahui secara jelas alamat tujuan suara moral mereka. Sehingga, paket suara itu berlabuh kepada orang yang mereka harapkan memimpin Jambi menuju dermaga peradaban. Kita tunggu perjalanan waktu yang akan menjawab faktanya. (*)
Wallahu a’lam.
*Mantan Ketua KMJ Mesir. Mahasiswa Program Doktor, National Universbity of Malaysia.
*Mantan Ketua KMJ Mesir. Mahasiswa Program Doktor, National Universbity of Malaysia.
