HBA-Fakhrori, Selamat Mengabdi
Hermanto Harun*
Setelah menyimak hasil penghitungan cepat (quick count) beberapa lembaga survei, hampir bisa dipastikan, pasangan Hasan Basri Agus (HBA) & Fakhrori Umar menjadi pemenang dalam kontentasi Pemilukada Jambi 19 Juni lalu. Gempita pesta demokrasi yang telah menyita waktu, menguras energi dan perhatian rakyat Jambi tersebut berakhir dengan kemenangan bersama rakyat Jambi. Prestasi “bersama” dalam wujud Pemilukada damai itu merupakan point besar dan bahkan prestasi sejarah dalam menapak peradaban menuju negeri Jambi yang bervisi Emas di masa mendatang.
Sorak sorai dan riuh ria kapanye sudah berlalu ditelan masa. Kompetisi laga kandidat telah disudahi oleh voting rakyat dibilik suara. Logika demokrasi dengan sistem one man one vote telah menentukan pemenangnya. Meskipun, kadang tidak selamanya logika demokrasi itu mensenyawakan kemenangan dan kebenaran. Akan tetapi, seolah telah menajdi “ijma’” rakyat, bahwa kebenaran demokrasi ditentukan oleh suara terbanyak atau mayoritas. Dengan demikian, peraih suara terbanyak dalam Pemilukada Jambi tersebut, selain berhak dinobatkan sebagai pemenang kontestatasi sekaligus juga berhak untuk mengklaim kebenaran daulat rakyat.
Kebenaran demokrasi tersebut, artinya, tidak ada lagi ada diantara kompetitor yang masih merasa lebih benar dan berhak dalam menduduki posisi penguasa di negeri Jambi dalam masa periode 2010-2015. Hal ini berarti, suara rakyat Jambi secara fakta telah mensepadukan idealisme dan cita Jambi ke depan dengan figur pemenang laga. Terlepas daripada kemungkinan, apakah suara terbanyak tersebut berdasarkan idealisme atau karena hal lain yang sangat bersifat pragmatis.
Kini, segudang harapan untuk terjadinya perubahan, seolah telah terbungkus dalam kado damai Pemilukada. Setumpuk janji, satu persatu akan di cek list oleh rakyat dalam masa kepemimpinan pemerintahan Jambi lima tahun mendatang. Keliaun “Emas” dalam visi dan misi HBA Fakhrori diharapkan menyinar seluruh sudut sesak sosial rakyat Jambi. Juga, sinar Emas itu diharapkan menjadi penerang jalan dalam mengejar ketertinggalan dalam berbagai bidang, utamanya bidang pendidikan dan kesejahteraan.
Duet Ideal
Banyak tafsir tentang kemenangan duet HBA-Fakhrori dalam Pemilukada Jambi saat ini. Tentunya, tafsiran tersebut merupakan interpretasi dari riak gelombang suara rakyat yang menitipkan amanah kepemimpinan Jambi kepada pasangan ideal ini. Adakah rakyat Jambi sudah rasional dalam memilih kreteria pemimpinnya, atau sebagai luapan kejenuhan dan kekecewaan terhadap kepemimpinan penguasa sebelumnya? Ataukah kemenangan pasangan HBA Fakhrori merupakan akumulasi dari kedua faktor tersebut? walau agak sulit menentukan kemungkinan jawab yang tepat,, namun, yang lebih krusial dari semua itu adalah, titipan suara rakyat Jambi telah diamanahkan kepada Cagub dan Cawagub pasangan terbaik putra Jambi. Duet HBA Fakhrori yang terhitung unggul di banyak bilik suara merupakan suara “intuisi” yang menitipkan banyak perubahan. Suara mereka adalah jelmaan dari keresahan kaum pingggiran sekaligus demonstrasi golongan jelata terhadap kepongahan kekuasaan.
Banyak sekali cerita dalam legenda sejarah yang menuturkan, ketika arah kekuasaan menghadirkan dirinya dalam titah telunjuk raja, serta dikerumuni oleh goyangan kaki penjilat dinasti, maka rakyat memiliki perlawanan dengan caranya sendiri. Meskipun hanya dalam bentuk dongeng cerita rakyat yang susah untuk ditelisik keabsahannya, namun cerita rakyat kerap menjadi inspirasi dan sugesti terhadap perubahan politik kekuasaan.
Hemat penulis, keunggulan HBA-Fakhrori tidak boleh lepas dari asumsi demikian. Sosok HBA yang telah banyak mengabdi di pelbagai daerah dalam Provinsi Jambi, serta kearifan dalam mendengar aspirasi rakyat, juga perhatian yang tinggi terhadap kaum bawah, semua itu menjadi cerita magnetis yang mengikat emosional hati rakyat. Begitu halnya dengan Fakhrori, meskipun belum “sepopular” HBA, beackgroud kelimuan dan latar belakang dunia kerja di pengadilan agama, seolah menjajikan terjadinya perubahan besar. Pasangan ini diangggap sebagai “perkawinan” dua kepribadian yang tulen, bersih dan berpengalaman, sehingga patut diklasifikasikan sebagai kepemimpinan yang ideal untuk negeri melayu ini.
Dua sosok putra ‘dusun’ yang bersahabat tersebut, hadir dalam waktu dan suasana yang tepat. Kehadiran keduanya seakan menjawab kebingungan rakyat tentang arah pembangunan negeri beradat ini. Negeri yang dikenal beridentitas melayu yang religius, namun tampak terserabut dari pilar budaya keberadatannya. Dengan demikian, daulat rakyat Jambi kepada HBA dan Fakhrori menitahkan akan identitas adat dan syara’ yang tidak boleh tereliminir oleh hanya sekedar nama kemajuan. Emosionalitas hati rakyat Jambi yang telah menitip amanah kepada kedua pemimpin ini tidak boleh digadaikan dengan sindrom “kemajuan” semata, namun dalam masa yang sama, memusnahkan identitas keberagamaan dan budaya melayu khasnya.
Pilihan intuisi rakyat Jambi yang mempercayai HBA-Fakhrori sebagai nakhoda negeri ‘damai’ ini, jelas tidak semuanya berlatar pragmetisme politik. Akan tetapi, suatu kepercayaan murni yang berangkat dari idealisme untuk membawa Jambi menuju dermaga peradaban kemajuan yang diimpikan. Hendaknya kedepan, impian kemajuan tidak lagi jauh terdengar samar-samar dari kajauhan, namun diharapkan nyata hadir di ruang yang terdekat.
Intinya, suara rakyat dalam Pemilukada Jambi beberapa hari lalu itu, semuanya merupakan jelmaan dari impian terhadap perubahan. Semua mereka masih percaya, bahwa ke depan, negeri melayu ini lebih bertabat dan beridentitas. Setumpuk mimpi perubahan menuju kemajuan itu, kini telah diembankan kepada cagub dan cawagub pemenang.
Sekarang, semua rakyat mengucapkan selamat kepada HBA-Fakhrori atas diraihnya suara pemilih terbanyak dalam Pemilukada ini. Ungkapan selamat tersebut sebagai simpati, suka cita sekaligus do’a, semoga dalam kepemimpinan Jambi nanti, pasangan ini menjadi sebutan prestasi kebaikan dalam sejarah. Mereka berdua diharapkan menoreh tinta Emas yang memancarkan peradaban Jambi ke penjuru nusantara dan dunia.
Sebagai bagian dari pemimpi perubahan Jambi itu, penulis sangat pantas mengucapkan selamat atas status baru bang HBA-Fakhrori sebagai “pelayan” umat. Saya berharap ucapan selamat ini selalu menyertai kemajuan Jambi dan semoga ungkapan selamat ini tetap eksis diucapkan rakyat Jambi sampai akhir masa pengabdian nanti. Selamat mengabdi bang HBA-Fakhrori! Wallahu ’alam.
*Dosen Fak Syari’ah IAIN STS, Mahasiswa Program Doktor, National University of Malaysia.
